Skip to main content

Posts

Showing posts from 2024

Kesaksian Perempuan Bekerjasama dengan Ib-Lis

Di wag alumni kampus beredar video perempuan yg kasih kesaksian kalau dia dulu pernah dikasih 'kemampuan' sama dukun. Mulai dari mindahin barang tanpa sentuh, nyembuhin orang sakit sampai mindahin dirinya sendiri ke tempat yang jauh hitungan kedip mata. Kata dukunnya itu 'kepintaran' warisan dari kakeknya yang nggak turun ke bapaknya. Awalnya dia seneng dong bisa melakukan hal-hal amazing kaya gitu. Bayangin, hemat banyak untuk ke satu tempat gak usah pake ongkos. Tapi lama-lama dia sadar kalau itu merupakan proses kerjasama dg ib-lis. Sejak mulai adanya keanehan-keanehan dalam hidupnya. Termasuk perkara menyembuhkan orang sakit, yang sebetulnya hanya memindahkan penyakitnya ke bagian tubuh yang lain. Puncaknya saat ada seorang laki-laki di kamarnya. Mukanya pucat mengerikan. Dia bilang, "Aku mau jadikan kamu permaisuriku." Pelan-pelan kulitnya melepuh dan membentuk tulisan Sa-Tan, mirip kaya cap di badan sapi. Dari situ, beberapa kali dia dinyatakan hilang. S

Mendidik Keimanan adalah Tugas Ayah

Beberapa waktu lalu, saya sudah menuntaskan baca buku #KeluargaPeradaban karya Ustadz Adriano Rusfi Psikolog, atau yang biasa dipanggil Ustadz Aad. Ada beberapa poin yang saya garisbawahi karena merasa ilmu ini baru saya dengar, salah satunya yaitu tentang #PendidikanIman yang merupakan kewajiban Ayah, bukan Ibu. Kenapa? Yang utama adalah karena Ayah yang Allah syariatkan untuk secara simbolik membisikkan kalimat-kalimat keimanan di telinga anaknya saat baru lahir, yaitu azan dan iqamah. Keduanya merupakan kalimat keimanan, bukan? Dimana kalimat syariatnya ada dua, yaitu 'Hayya Alash shalah' dan 'Hayya Alal Falah'. Kedua, karena keimanan gak bisa diajarkan oleh Ibu yang punya kecenderungan verbal cerewet. Keimanan itu harus diajarkan dengan sabar dan perlahan. Sehingga tertanam tahap demi tahap dan tertancap sedikit demi sedikit. Ketiga, Iman itu bernuansa #heroik dan #dikotomis baik-buruk, benar-salah, sesuatu yang maskulin banget. Berbeda dengan akhlak yang mengajarka

Saat Anak Mengaku Sakit di Pagi Hari

Pernah mengalami yang seperti ini, Manteman? Saya, setelah sekian lama nggak, hari ini terjadi lagi. Sekaligus dua, malah. Si sulung dan anak gadis! Keduanya sama-sama nggak mau sekolah karena pusing. Panik gak panik gak? Enggak sih, kesel doang. Lagi sibuk bikin sarapan, kudapan dan bekal makan siang, masih harus ngurusin yang (kayanya) #psikosomatis Tau Psikosomatis? Itu lho sakit yang terasa parah karena efek psikologis cemas berlebih terhadap suatu hal. Salah satunya cemas mau menghadapi guru killer, pelajaran yang sulit, takut dibu-lly dan lain-lain. Gejalanya bisa mendadak pusing, sakit perut, gatal-gatal dll. Padahal kalau dibawa ke dokter, cek lab, penyakitnya nggak terdeteksi.  Please gak usah ngomong ain, jin dan semacamnya dulu, ya. Itu topik berbeda, ada bahasan tersendiri.  Alih-alih marah-marah, gak akan guna menghadapi anak terduga psikosomatis. Mending kita ngobrol berhadapan sejajar sama anak. Tanya, kenapa? "Hari ini ada tes pelajaran, Gaza belum siap, susah bang

Over Afirmasi Berpotensi Rusaknya Tauhid

 Suka heran, ada orang sombong nggak ketulungan. Mungkin banyak yang sekadar ikut-ikutan atau terbawa suasana syahdu, akibat selalu merasa kesepian tanpa ada yang peduli. Sini merapat saya bisikin, Saat kamu berpikir 'Diri sendiri adalah alasan bisa sekuat ini.' Ingat, Allah senantiasa ada bersamamu di tengah sabarmu, "Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. al-Baqarah ayat 153) 'Gak ada yang lebih peduli selain diri sendiri.' Really? Coba ingat ini, “Tidak ada musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah SWT. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT niscaya Allah akan memberi Hidayah, petunjuk kepada hatinya (Qalbahu). Dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun:11) 'Diri sendiri gak pernah lelah menahan semua beban.' Ciyus, Beb?  “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“. (QS Ath-Thal

Saat Tak Lagi Selalu Bersama

 "Sabar, cuma sebentar. Anak-anak gak selamanya bareng kita."  Nasehat itu saya dengar dari para ibu senior, bertahun-tahun lalu saat baru punya dua anak, yang selalu jadi buntut ibunya. Yang bahkan ibunya baru sedetik di kamar mandi aja dicariin. Iya, literally sedetik! Saya menatap kehidupan para kakak sepupu dan teman-teman yang punya anak beranjak dewasa, dengan dunia mereka masing-masing. Weekend saat ada acara keluarga, anak tertua tidak ikut karena hang out sama teman-temannya atau ada kegiatan sekolah. Lalu gantian melirik dua lelaki kecil yang berebut mau duduk dekat bundanya, kapan dan di manapun itu. Waktu berlalu. Perlahan saya mulai mengalaminya. Si sulung sudah banyak kegiatan bareng sekolah. Entah ekskul, kerja kelompok, nobar bioskop dll. Hari ini saya menghadiri gathering pembukaan project #aparkostdekatIPB, si sulung PKL sama sekolahnya di daerah Jakarta Pusat. Ayahnya yang khawatir. Berulangkali memberitahunya tentang cara tap barcode KRL dari ponsel, pesan

Bisakah Santri Jadi Liberal?

 Tempo hari seorang teman baik menelepon. Awalnya kami bahas soal umroh. Lalu sebagaimana umumnya ibu-ibu, obrolan bisa dengan mudah berpindah. "Aku sedih banget lho, Mba Pritha. Anakku yang bungsu, sekarang setelah kuliah jadi jauuh banget dari Allah." Begitu beliau membuka cerita. "Jauh gimana, Bu?" "Anak itu sejak kecil, seperti kakak-kakaknya, kusekolahkan di sekolah Islam. Selain sekolah juga ngaji, bahkan boarding pas SMP. Lalu karena sakit, pas SMA tak' pindah ke SMA-IT. Mulai di situ dia berubah. Yang tadinya alim, shalat di masjid, ngaji, menghafal Qur'an eh pelan-pelan berubah haluan. Pemikirannya terutama, kok jadi lain? Kaya nggak ada bekas kalau dia pernah nyantri, Astaghfirullah!" "Kakak-kakaknya gimana?" "Kakak-kakaknya bener, Mba. Yang udah kerja, yang baru lulus, nggak ada yang aneh-aneh. Nih malah belum lama ada teman anak bungsuku, perempuan. Dulunya berhijab shaliha, lah sekarang bajunya se-xy dan merokok. Anak su

Batas Cukup

Pernah nggak sih kalian, terutama para ibu rumahtangga, merasa kalau pekerjaan domestik tuh nggak ada ujungnya? Selesai masak sarapan, cuci perabot, lanjut nganter sekolah. Pulang ke rumah udah tersedia tumpukan baju kotor. Cuci, jemur lalu belanja. Masak makan siang, beberes rumah, ambil jemuran, lipat. Eh udah jam pulang sekolah. Seterusnya sampai malam tiba, untuk menyambut hal yang sama esok harinya. Sebetulnya nggak cuma ibu rumahtangga sih, karena profesi lain juga sama aja. Mungkin yang membedakan karena ibu rumahtangga ini nggak kemana-mana, hasilnya nggak 'bertahan lama' dan umumnya nggak mengenal gaji (padahal mestinya ya dapet, tapi gak usah dibahas di sini, kepanjangan). Jadi bagi sebagian orang terasa lebih lelah dan membosankan. Lalu lelah datang, lack of grateful and happiness. Membandingkan diri dengan orang lain yang kayanya lebih beruntung, trus ngambek. Udah kaya lingkaran se-tan. Been there done that. Saya mengalami itu pas memutuskan gak pake ART lagi setel

Menitipkan Mimpi Pada Anak

Saya ingat dalam kuliah, Ustadz Aad pernah menyampaikan bahwa tidak salah meneruskan cita-cita/harapan pada anak. Jangan terbuai dengan kalimat, "Biarkan anak merajut mimpi mereka sendiri." Beliau memberi contoh kawan semasa kuliahnya dulu. Orang Tionghoa, kebiasaannya kupu-kupu, kuliah-pulang, kuliah-pulang. Pokoknya kalau nggak ada yang penting-penting amat, gak pernah dia berlama-lama di kampus. Sempat Ustadz Aad heran dan nanya kurang lebih gini, "Kenapa sih langsung pulang, buru-buru amat? Gak pengen ikut kegiatan kemahasiswaan gitu?" "Gua kebagian jaga toko Papi, gantian sama adik dan kakak." Begitu jawaban si kawan. Time flies. Setelah lulus, saat para fresh grad sibuk lamar sana sini, sang kawan sudah lihai jadi manajer toko milik papinya. Bahkan bisnis sang Papi berkembang di tangan anak-anaknya. Ada yang mengurusi manajemennya, distribusinya, teknologinya dll. Begitu, menitipkan cita-cita tak selalu buruk. Seperti halnya dokter, tentu tak mengapa

Antara Laskar Pelangi dan Keluarga Peradaban

 Membaca buku kedua #KeluargaPeradaban membutuhkan effort lebih untuk memahaminya. Bukan karena kalimatnya yang rumit, tapi karena isinya yang bikin menimbulkan pertanyaan, 'Masa sih kaya gitu?' Salah satunya adalah pernyataan bahwa keshalihan itu erat kaitannya dengan kreativitas. Karena shalih itu amal, bukan akhlak. Jadi ada gerak aktif dan maju di dalam terminologi ini. Shalih itu bukan sekadar mencegah berbuat dosa tapi lebih ke mengejar pahala. Sikap seperti ini sangat diharapkan terutama pada para pemuda, karena untuk usia 40+ biasanya sudah mulai ingin hidup tenang, pasif menghindari perbuatan dosa.  Sayangnya nggak banyak pemuda jaman now yang punya nyali melakukannya. Mereka lebih memilih konsep shalih konservatif yang pasif. Kalau zaman dulu, nyali para pemuda sangat besar. Salah satunya, mereka nggak takut menginap di prodeo untuk memperjuangkan penggunaan jilbab di sekolah. Saya masih mengerutkan kening bahkan saat sudah memahami maknanya. Masih butuh pembuktian. K

Membangun Keluarga Peradaban

Selalu ada #insight baru dari ilmu yang diberikan Ustadz Aad--demikian kami, murid-muridnya memanggil Psikolog Adriano Rusfi. Dari buku terbaru beliau yang berjudul #KeluargaPeradaban, meski baru menamatkan buku pertama, cukup banyak materi yang menghentak kesadaran saya. "Oh, ternyata akar dari parenting itu bukan pengasuhan anak. Not as simple as a question, how to make our child bla bla bla?" "Oh, menikah itu bukan membangun hubungan relationship yang seimbang antara kedua belah pihak. Karena dalam Islam, kesetaraan antara suami-isteri itu nggak akan pernah ada." "Oh, keluarga peradaban itu harus mulai melatih diri menghadapi terpaan badai, hewan buas, karang dan semacamnya, buka  berkutat dengan hal remeh yang dibesar-besarkan." Dan oh-oh lainnya. Kaya #rollercoaster, baca buku ini bikin saya seolah melakukan manuver berulang. Bersemangat terbang, sejenak melaju datar, lalu dihempas angin kencang hingga t

Kakek yang Selalu Berkecukupan

 Ada seorang lelaki tua yang sudah tak lagi produktif, tapi atas izin Allah, tak pernah kekurangan secara materi. Alih-alih kekurangan, ia bahkan masih bisa berbagi dengan orang lain. Hingga sang cucu heran dan mempertanyakan, dari mana kakeknya punya uang? "Dari Allah." Selalu kakeknya menjawab demikian. Cucunya yang kritis nggak puas dengan jawaban itu. Ia lantas mencari tahu. Dari neneknya akhirnya ia menemukan jawaban. Sang Nenek bercerita kalau kakeknya sudah jadi yatim sejak muda, saat baru kuliah. Melihat banyak adiknya masih sekolah, beliau memutuskan keluar dari kampus dan bekerja. Tanggungjawab diemban tanpa banyak cakap, mempertanyakan dalil atau semacamnya. Ia anak sulung, lelaki pula, wajib menjaga kehormatan keluarga. Ibunda dan adik-adik terbantu, sampai mereka mandiri. Saat akhirnya menikah, ia masih membantu orangtuanya. Adiknya yang kekurangan tetap disokong. Bahkan adik ipar yang kena PHK pun tak luput dari bantuannya. Sandwich generation? Ia tak tau Kaya-r

Perlukah Hijab Sejak Dini?

 Saat belum punya anak perempuan, saya pernah datang ke satu kajian. Begitu banyak saya jumpai ibu-ibu dengan anak perempuannya yang berhijab cantik.  Ada satu anak yang duduk di dekat saya, nggak pakai hijab. Usianya mungkin sekitar 6 tahun. Ibunya tampak rikuh. Terdengar beberapa kali, pelan, ia meminta anaknya agar mengenakan hijabnya. Tapi sang anak menggeleng. Sepertinya ia kegerahan atau ya merasa lebih nyaman begitu saja, tanpa #hijab. Anak itu asyik memainkan mainannya. Saya nggak terlalu memerhatikan ibu itu, sampai akhirnya terdengar, "Kalau kamu gak mau pakai kerudung, nanti Allah marah." Eh, gimana? Pengen banget bilang, kalau anaknya belum terkena beban syariat. Tapi ntar malah dikira ikut campur. Lagian saya juga belum punya anak perempuan, jadi belum pengalaman. Boleh jadi ibu itu pun sebetulnya nggak ingin memaksakan, tapi malu sama lingkungan. Kejadian itu cukup membekas dalam memori. Bikin saya bertekad, nanti kalau Allah takdirkan punya anak perempuan, ngga

ReviewBuku 'Menggali Kekuatan Bercerita'

#ReviewBuku 'Menggali Kekuatan Bercerita' Penulis Prof. Euis Sunarti Pernah kepikiran enggak, kalau kita--sadar ataupun tidak, seringkali terpengaruh oleh sebuah #cerita, terutama jika hal tersebut relate dengan kehidupan, topik yang digemari atau menguras emosi? Misalnya, saat mendengar cerita tentang orang yang sukses melalui perjuangan panjang. Kalau kata anak sekarang #suksesjalurperintis bukan pewaris. Orang-orang yang menempuh perjuangan serupa dalam menjalani hidupnya, akan merasa kalau pencapaian sang tokoh boleh jadi merupakan puncak yang akan digapainya kelak jika ia konsisten dalam berusaha. Atau terkait berita populer, deh. Saat mendengar cerita seorang perempuan yang dikhianati oleh suaminya, maka akan berbondong-bondong perempuan menjadi pembela nomor wahid bagi si tokoh. Yang pertama dan utama tentu saja karena relate, merasa senasib sepenanggungan sesama perempuan.  Berdasarkan pemikiran inilah, Prof Euis menulis buku #MenggaliKekuatanBercerita. Sebagai guru bes

Praktekkan Teknik Reframing saat Umroh

 Ngobrol sama seorang teman terkait umroh ... "Mba, temenku gak jadi pakai #jannahfirdaus karena katanya gak bagus." "Kata siapa?" "Browsing, ada yang rating jelek." "Oh.. ya setiap travel pasti ada plus minusnya lah. Mungkin ada hal yang bagi penulis rating rendah itu kurang berkenan atau kurang nyaman. Jadi dia tulis jelek. Wajar aja, sama kaya usaha lainnya, restoran, hotel, salon. Pasti ada yang puas, ada yang B aja, ada yang gak suka." "Mba Pritha dulu kenapa pakai Jannah?" "Diajakin Teh Kiki Barkiah sharing parenting di tanah suci. Waktunya jeda dua hari dari saat kami (saya dan suami) memutuskan untuk mulai nabung #umroh. Kami pikir, itu cara Allah ngasih jawaban. Karena kami saat itu lagi browsing sana sini. Browsing dalam kondisi awam sama sekali perkara umroh. Saat ada yang rekomen trus tau kalau ada teman dekat yang udah pernah pakai dan memuaskan, ya kenapa enggak?" 🕋🕋 Terhadap review negatif, saya nggak mau semb

Kisah Kurir yang Ingin Jadi Pemeran Utama

  Izinkan saya bercerita tentang seorang teman baik yang sering banget jadi kurir kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Seorang perempuan jelang usia emas, yang nggak tegaan sama kesusahan orang lain, padahal kondisinya terkadang juga nggak lebih baik dari orang yang datang meminta tolong padanya. Jika ada single parent yang bercerita padanya mengenai tunggakan SPP anak sehingga si anak terancam tak bisa ikut ujian, dia post di medsosnya, "Peluang amal nih, ada anaknya teman single parent. Prestasinya bagus (sambil post foto raport), tapi gak bisa ujian karena nunggak SPP sekian bulan." Nggak lama, muncul status lanjutan dengan caption, "Alhamdulillah SPP anak tadi lunas, terimakasih orang baik." Waktu berselang, dia posting lagi, "Bantu yuk, ada ummahat yang kena PHP. Sudah bikin kue sekian pcs, tapi pemesan meng-cancel. Padahal modalnya pas-pasan. Dia butuh untuk ibunya berobat." Cuma berselang sekian menit, sold out lah puluhan pcs kue itu. Dengan ba

Perempuan, Ras Terkuat Saat Badai Datang

"Teh, setuju gak sih kalau orang bilang, jadi isteri harus berpenghasilan, jaga-jaga suami PHK/bangkrut, wafat atau cerai?" Seorang sahabat menanyakan itu pada saya, saat kalender baru saja terpasang pekan lalu. Bagi saya pribadi, #perempuan harus punya skill, tapi jangan diniatkan kalau suami begini begitu. Pelajari dan praktekkan saja untuk mengisi waktu luang, menambah pemasukan dan yang harus banget adalah untuk meraih ridha-Nya. Buat apa kalau Allah nggak ridha, ya kan? Sejak lama selalu ada perempuan-perempuan yang mengetuk WA atau DM saya, curhat. Belakangan topiknya seputar struggle-nya mereka menghadapi suami yang pelit. Ada sejak menikah sampai sekian dua dekade usia pernikahan hampir tak pernah memberi nafkah. Ada juga yang tadinya memberi pas-pasan, lalu kejeblos dalam panggung politik ikut mencalonkan diri, pakai uang pribadi bahkan utang sana sini. Lalu abai terhadap nafkah keluarga, sampai yang sudahlah tak menafkahi tapi meminta isteri memberi pada keluarganya

Introvert, Kok Rame?

  Ih baru tau kalau tanggal 2 Januari itu #hariintrovertsedunia Yeay, terimakasih sudah bikin hari istimewa buat kami, manusia dengan karakter yang seringkali disalah-pahami. Introvert itu katanya sombong, jutek, eksklusif, pilih-pilih teman dan semacamnya. Setidaknya itulah label yang sering dialamatkan ke saya sejak dulu. Padahal dulu jaman sekolah belum kenal istilah ini. Kalo nanya, masa sih? Ibu saya yang jawab, "Emang kamu mah judes mukanya juga. Senyum kek, orang tuh disapa." Tapi, emang iya, introvert se-tertutup itu?  Pertama, idealnya sih menentukan Introvert atau Extrovert itu lewat pemeriksaan Psikolog. Lah resmi amat? Kan diagnosa ini gak se-berbahaya Psiko-pat? Bukan gitu, Bestie. Self diagnose itu kalaupun gak berbahaya secara ekstrim, tapi bisa merugikan. Coba aja kalau ada orang merasa dia introvert 'cuma' via Google. Trus dia meyakini itu dan melewatkan pekerjaan yang sebetulnya sanggup dia kerjakan, tapi berpendapat kalau pekerjaan itu gak cocok bua