Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2022

Sekolah Ramah Masa Depan Anak

Sekolah Ramah Masa Depan Anak Bismillah ... Tiga hari yang berat menjalani Coaching dan Workshop #InspirePsychology-nya Ustadz Aad  di Bandung, akhirnya terlewati, alhamdulillah. Itu materi daging smua, masya Allah. Tak jarang ada 'celetukan' beliau yang bikin jlebb. Nggak pernah terpikirkan, tapi bener juga ya. Salah satunya saat dibilang bahwa #SekolahRamahAnak itu bagus, tapi cukup sampai jenjang Taman Kanak-kanak atau PAUD. Begitu memasuki SD, perlahan ubahlah menjadi #SekolahRamahMasaDepanAnak Lho kok? Kaya gimana itu? Sebelumnya kita samakan persepsi dulu ya ... Berdasarkan data Disdikbud, Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utamanya adalah non diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak. Sekolah ramah anak mengusung konsep mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup,

Feels like Home

Feels like Home Sepanjang jalan dari Bandung semalam, saya udah kaya penyiar radio yang reportase segala kisah selama Coaching n Workshop #InspirePsychology Jumat-Ahad lalu. Suami dengerin tanpa protes sedikitpun. Padahal dari hari pertama juga setiap malam saya udah cerita. Mungkin berguna juga mencegah dia ngantuk. Intinya adalah, Feels like home. Ya, kegiatan itu bikin saya merasa kaya 'di rumah', baik materi maupun lokasi. Bandung, kembali ke kampung halaman yang menguak kembali banyak kenangan. Sementara Psikologi, adalah subjek yang saya suka sejak kecil, sejak mengenal rubrik itu di tabloid langganan ibu saya. Sampai sejak saat itulah saya  bilang mau jadi Psikolog. Ibu saya terdiam. Mungkin bagi beliau belum umum anak kelas 2 SD di masa itu ingin jadi psikolog. Tahun 90an profesi yang keren dan banyak dipilih anak-anak itu kan antara dokter, tentara, presiden, insinyur, pilot dan pramugari, betul? Tapi ya Ibu saya mengaminkan saja, "Belajar yang baik, b

Anak Adalah Hak Prerogatif Allah

Hufft ... akhirnya, bisa duduk juga! Di penghujung senja sekitar 5 tahun yang lalu, saya nyaris selalu kelelahan. Bagaimana tidak, menjalani hari bersama dua anak lelaki lincah plus satu bayi di dalam kandungan, rasanya melelahkan sekali. Kondisi yang nyaris selalu membuat saya menumpahkan berbagai keluhan kepada suami saat ia pulang kantor. Hingga suatu saat, seorang sahabat menelepon. "Pritha, hikss ... Kenapa perempuan selalu disalahkan? Disudutkan?" "Bentar, pelan-pelan, ada apa?" Mengalirlah satu cerita yang mengiris hati dari mulutnya. Tentang betapa ia nyaris selalu disalahkan oleh beberapa saudara suaminya karena tak kunjung memiliki momongan setelah nyaris sepuluh tahun pernikahan. Soal ia yang sibuk meniti karir lah sampai perkara ketidaksukaannya pada sayur-mayur. Semua itu diklaim sebagai faktor penyebab dirinya tak juga dikaruniai keturunan. Saya sungguh tak berani menyarankan ia untuk bersabar. Nyaris 10 tahun menikah dan belum dikaruniai m

Terima Kasih atas Semua Maaf untuk Bunda

Just The Two of Us Sore tadi saya menyempatkan diri menjemput si sulung. Selain untuk menggenapkan langkah yang ditargetkan minimal 2Km perhari, juga untuk special time dengannya. Dan ini momennya pas, dia lagi puasa sunah. Niatnya, mau saya ajak beli takjil dan lauk apapun yang diinginkannya. Jarak ke sekolah dia sekitar 1,1Km. Alhamdulillah nya sore. Mayan keringetan kalau jalannya siang bolong. Pas sampai sekolah, langit tiba-tiba menghitam. Titik hujan berebut turun menjejak bumi. Dari yang awalnya gerimis, menderas hanya dalam hitungan menit. Saya yang sama sekali nggak terpikir bawa payung, jadi kesal sendiri. Udah tau sekarang hampir tiap hari hujan, kenapa nggak kepikiran sih? Satu-persatu siswa putih biru bermunculan dari gerbang. Kelompok pertama ini sepertinya bernyali cukup besar menembus hujan deras. Bukan cuma perkara badan basah, tapi barang bawaan juga. Rata-rata bawa laptop. Enggak khawatir gitu ya, laptopnya mandi hujan. Tapi tiba-tiba saya ingat cerita si

Bukan Hanya untuk Flora Fauna, Manusia yang Utama

YOUTUBE Film animasi berjudul 'Rio' yang diproduksi oleh Blue Sky Studios pada tahun 2011, rupanya bukan sekadar isapan jempol  belaka. Kisah ini perlahan menunjukkan bukti nyata mengenai  punahnya satu demi satu satwa-satwa liar di muka bumi. Contoh terdekat adalah di negeri ini. Pada dekade 90-an, anak-anak Indonesia masih dengan mudah melihat satwa-satwa endemik negeri ini. Sebut saja Orangutan, Harimau Sumatera, Badak Sumatera, Gajah Kalimantan, Komodo, Jalak Bali, Burung Maleo, Tarsius Kecil, Monyet Hitam Sulawesi hingga yang terkenal dari ujung timur sana yaitu Cendrawasih. Mudah saja, tinggal kunjungi kebun binatang atau Taman Safari, semua satwa itu bisa dijumpai di sana. Para peneliti satwa liar pun masih bisa meneliti mereka dari jumlah yang cukup banyak di habitatnya langsung. Kamera video tersembunyi yang diletakkan di berbagai titik di hutan, acapkali memperlihatkan jejak keberadaan para satwa liar yang dilindungi itu, mondar-mandir di lokas

Negosiasi sang Calon Ulama

Rutinitas pagi saya sama dengan sebagian besar ibu-ibu tanpa PRT pada umumnya, yaitu nyiapin sarapan, bekal snack dan makan siang. Selesai sarapan, mengantar si sulung sampai pagar. Selanjutnya si nomor dua sampai pagar juga. Terakhir, anak gadis yang masuknya paling siang. Cuma dia yang sampai sekolah. Lalu saya akan pulang untuk melanjutkan pekerjaan domestik dan menulis. Tapi hari ini lain. Sepeda si nomor dua bannya kempes. Dia mau tak mau hanya memiliki dua opsi, jalan kaki atau dipanggilkan ojol. Saya tak bisa nyetir motor. Sementara pakai mobil, butuh waktu lebih lama karena ambil jalan memutar, tak bisa lewat gang. Belum lah manasin mobil, kena lampu merah. Ribet lah pokoknya. Pagi ini si nomor dua memilih opsi jalan kaki. "Tapi dianter Bunda." "Enggak lah, kan Bunda mau nyiapin Ade sekolah." "Please ..." "Masih banyak urusan, Aa." "Biar sambil murojaah. Nanti Bunda tulis di lembar tugas yang dari sekolah." Hmm, iya

Sedekah Jangan Nanggung

Sore tadi saya bersama anak gadis dan si nomor dua ke minimarket. Begitu sampai parkiran, mata kami tertuju pada seorang anak pemulung berpakaian rapi dengan peci di kepalanya. Sepertinya dia masih sekolah, bukan anak jalanan. Si nomor dua menggoyangkan tangan dan menatap saya. "Iya, Bunda tau kamu mau apa. Nanti ya." Dia tersenyum senang. Saya tentu saja paham, anak ini paling nggak bisa lihat pemulung, apalagi jika itu anak-anak. Hatinya mudah trenyuh, masyaa Allah. Di dalam minimarket kami membeli beberapa kebutuhan. Si nomor dua mengingatkan saya untuk membeli makanan guna disedekahkan pada anak pemulung itu. Saya lalu mengambil roti berukuran besar. "Minumnya?" Anak itu meminta lebih. "Dia di rumahnya pasti punya minum." "Emangnya dia pasti punya rumah?" Glek! Baiklah. Kami membayar semua belanjaan. Anak itu bergegas akan menunaikan sedekahnya dengan bahagia. Tapi sejurus kemudian ia berbalik, "Uangnya mana?" "Udah

Takjil Termanis Hari Ini

Takjil Termanis Hari Ini Kami berbuka puasa bersama barusan, saya dan si sulung. Alhamdulillah ... Sambil mengunyah takjil, dia bercerita tentang hari ini. Tentang tasnya yang berat karena hari Senin harus bawa laptop untuk pelajaran TIK. Tentang sepatu bertalinya yang bikin lama kalau lepas shalat, gak bisa sat set sat set. Tentang dia yang menyelesaikan tugas TIK nya paling duluan. Tentang satu mata pelajaran yang salah jadwal. Tentang sebungkus kacang sukro dari satpam sekolah, yang melihatnya sudah lelah di sore hari. "Kamu gak bilang lagi puasa?" "Enggak lah, nanti gak jadi dikasih kacang. Jadi Gaza bilang makasih aja." Dan tentang driver ojol yang ramah, mengajaknya ngobrol sepanjang perjalanan pulang. "Dia bilang, 'kamu pasti pinter ya, De? Soalnya bisa sekolah di sini. Masuknya aja susah.' Gaza mo bilang, ah enggak Pak, biasa aja, tapi seneng dibilang pinter. Ya udah Gaza diem aja. Bapaknya cerita dia juga anaknya sama kaya Gaza baru

Saat Lelah/Insecure dengan Teori Parenting

Lelah dengan Teori Parenting yang ada? Merasa insecure dengan larangan-larangan yang ada? 🤯🤯 Merasa jadi orangtua yang buruk karena melihat para pakar seringkali mencontohkan perilaku yang tampak di awang-awang untuk diteladani? Beberapa waktu belakangan, saya terima banyak wa yang cerita tentang hal itu.  Wajar! Kabar baiknya, yang merasa begitu, Anda nggak sendiri. Ada banyak orangtua yang merasa demikian. 💗💗💗 "Tokoh parenting A lembut bangeet sama anak-anaknya. Persis Umma-nya Nussa Rarra. Aku boro-boro, yang ada anakku bilang, Ibu kaya Kak Ros." 😪 "Tokoh parenting B kayanya punya banyak waktu luang. Segala perkara bisa dibahas panjang lebar sama anaknya. Aku? Gak punya ART. Setiap detik begitu berharga untuk mengerjakan banyak hal, kalau nggak bisa keteteran urusan domestik." 😵‍💫 "Tokoh parenting C bilang harus ada kerjasama suami isteri dalam mewujudkan anak-anak shalih yang kuat karakter dan tauhidnya. Sementara aku, suami jauh/tidak p