Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2023

Cita-cita Melanjutkan Kuliah Magister Psikologi di Usia Kepala Empat

Cita-cita Melanjutkan Kuliah Magister Psikologi di Usia Kepala Empat Menjadi Psikolog merupakan cita-cita saya sejak kecil, tepatnya kelas 2 SD. Dimulai dari hobi membaca artikel Psikologi di tabloid milik Mama, saya jatuh cinta pada profesi ini. Di mata saya, Psikolog itu keren. Ada orang datang dengan masalah apa saja, entah anaknya nakal, suaminya galak, nggak percaya diri dan lainnya, eh ... selalu dia punya solusinya. Beranjak dewasa bacaan tema Psikologi saya bertambah banyak dan variatif. Mulai dari Psikologi anak, pernikahan, sampai gangguan jiwa. Semakin bertambahlah kecintaan terhadap bidang studi yang satu ini. Ingin jadi Psikolog, supaya bisa membantu orang lain memahami dan memberi alternatif solusi atas masalah yang mereka alami. Sampai akhirnya cita-cita itu menemukan jalannya. Lepas SMA saya masuk ke Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Di situ saya baru sadar, bahwa mendalami ilmu Psikologi

Anak Malas, Ortu Gak Perlu Ngegas

Anak Malas, Ortu Gak Perlu Ngegas Adakalanya anak malas ke sekolah. Alasannya bisa macam-macam mulai dari capek, jenuh, belum bikin pe er, gak suka pelajaran tertentu, gak suka guru tertentu, bermasalah sama teman, atau ya #Malas itu sendiri, tanpa tambahan alasan apapun. Sebagian dari kita (been there done that), akan merespon dengan ngomel, ceramah atau membandingkan dengan kita di masa lalu yg pastinya diceritakan yang lebih baik. "Kamu udah dianter, tinggal duduk sampai. Dulu Ibu jalan kaki sekian kilometer, gak ada uang jajan pula bla bla bla." Atau, "Nak, jangan banyak alasan. Jika para Nabi dulu banyak alasan saat berdakwah, agama ini gak akan bisa maju." Atau, "Enak aja gak sekolah. Heh, sekolah tuh bayar, pake uang, bukan daun. Kamu nggak sekolah, SPP nya sama. Gak ada diskon. Papa kerja keras, kaki di kepala, kepala di kaki buat bayar sekolah kamu!" Di saat seperti itu, gak bakalan masuk, percayalah (karena saya pernah, hehe!) Jadi pa

Saat Ibu Puitis Bertemu Anak Logis

Apakah saya selalu berhasil dalam mendidik khususnya memotivasi anak? Enggak lah, nggak sedikit gagal. Tapi saya selalu yakin, kalau kegagalan itu ... ya gagal aja. Eh, maksudnya keberhasilan yang tertunda. Salah satunya kemarin, saat si nomor dua pulang main bola dalam keadaan nangis. Katanya dia dikatain bo doh lah, be go lah dll. Karena pas jadi kiper kebobolan 2x. Saya peluk dia. Saya bilang, "Bil, setiap pemain bola hebat, pasti juga pernah gagal dulunya. Eh gak cuma dulunya deng, ingat gak waktu Ronaldo kalah di pildun? Dia nangis, sedih, orang-orang pada ngatain. Masa pemain nomor satu dunia kalah?" "Iya sih tapi sakit banget dikatain kasar itu." "Iya paham, pasti gak enak. Tapi kuat, kamu harus berjuang. Mereka mungkin punya harapan yang besar sama kamu, makanya pas kalah langsung gitu. Beda sama kalau mereka nganggap kamu anak bawang. Pas kalah ya udah, gak ngarep menang juga. Kaya pohon lah, Bil. Katanya semakin tinggi, akan semakin banyak

Isteri Kaya Bunda

Masih takjub dg kemampuan anak bujang bikin seneng emaknya, masya Allah tabarakallah. Jadi tadi dua bujang berantem. Yang satu ngeyelan, satunya bete berat jadi terpancing esmoni. Saya seperti biasa, diem di tengah jadi wasit. Jelasin panjang lebar duduk perkaranya sampai keduanya paham dan berdamai. Si nomor dua langsung cuss disuruh ayahnya. Tinggal si sulung. "Kesel Gaza ngasitau Bilal tuh, susaaah banget!" "Sama, kamu juga gitu, keras kepala." "Ya tapi kalo Gaza ..." "Nah itu salah satu ciri orang keras kepala, segalanya pake 'tapi'. Apa-apa tuh harus diendapkan, tarik napas, buang, istighfar. Jangan emosian." "Susah Bun, udah sering bikin kesel." "Belajar. Kamu pikir Bunda bisa gini ujug-ujug?" "Iya, turun dari langit." "Emang ujan? Dengerin, kemampuan menahan diri dari nafsu itu diperlukan dalam banyak tempat. Di kantor, sekolah, lingkungan main, keluarga besar dll. Pokoknya orang yang