Skip to main content

Posts

The Power of Allah

Dulu saya percaya The Power of Dreams. Saat kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu dan berusaha keras menggapainya dengan upaya dan doa, maka hanya soal waktu, impian itu akan kita dapatkan. Sekarang mindset saya berubah. The Power of Allah. Karena sebesar apapun sebuah impian, meski diiringi dengan upaya dan doa yang tak pernah putus, jika Allah belum menaruh ridha atasnya, maka itu akan tetap berupa impian. Sederhana, 'cuma' perkara Ridha. Tapi ternyata sedahsyat itu pengaruhnya. Perumpamaannya kaya gini, ada salah satu anak saya yang 'punya' amandel. Belum perlu dioperasi, tapi harus dijaga asupan makanannya. Maka terhadap anak yang satu ini, saya lebih bawel perkara jajannya. Saat ia ingin jajanan yang dalam catatan dokter bisa memicu amandelnya meradang, maka sekuat tenaga akan saya cegah. Ganti dengan yang lain. Meski sekuat tenaga pula ia merengek. Sekali enggak ya enggak.  Demi apa? Tentu saja kesehatannya. Ya adakalnya dia bandel, jajan sendiri gak mengindah
Recent posts

Membatasi Jumlah Anak, Bolehkah?

Temen saya nanya, "Prith, kalo kita mencukupkan diri dari jumlah anak, dosa gak sih?" Rupanya maksud dia adalah saat kita merasa udah stop, anak gue sekian aja. Mungkin dia terpikir nanya setelah baca status saya kemarin terkait si nomor dua yang pengen punya adik. Saya sampaikan ke dia, tergantung alasannya. Kalau kita berniat menyetop dengan alasan kesehatan, kesadaran diri atau kekhawatiran atas ketidakmampuan mendidik dan mengasuh. Ini macam-macam kondisinya. Ada yang LDR dengan suami, kondisi ekonomi yang pas-pasan, usia yang sudah tak lagi muda dll macam-macam lah kondisi orang. Saya rasa ini dibolehkan. "Coba lu bayangin, ada nih orang yang miskin banget. Jangankan untuk hal-hal tersier, perkara mencukupi makan anaknya aja belum mampu, berharap bantuan orang bahkan. Gue rasa lebih bijak jika dia memutuskan untuk stop dulu punya anak. Atau orang yang tinggal LDR. Dengan jumlah anak yang ada saja sudah kelimpungan karena gak punya support system, sampai acapkali mer

Insight Taushiyah Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah, Tafsir surah Al Mursalat 1-15

  Hati-hati dengan film yang kita tonton, terutama yg berasal dari barat. Sangat bahaya jika mereka menyajikan topik tentang hari akhir (Judgement day). Karena pada dasarnya mereka nggak mengimaninya. Jadi mereka akan buat versi mereka.  Boleh jadi akan ada apa yang digambarkan dalam Al Qur'an mengenai bintang yang padam cahayanya lalu berjatuhan, langit yang terbelah, gunung yang berhamburan laksana debu (Al Mursalat : 8-10). Tapi di akhir cerita, biasanya akan tampak sekelompok orang yang tersisa. Mereka bertahan di atas reruntuhan pasca kehancuran langit dan bumi yang demikian dahsyat. Lalu melanjutkan hidup. Mereka yang survive pada umumnya disebabkan oleh adanya orang yang melakukan 'upaya penyelamatan dunia', yang pada akhirnya dianggap pahlawan, entah dia bertahan hidup atau tidak. (Sesaat saya ingat film lawas Armageddon dengan OST-nya yang dulu, di telinga ABG saya, terdengar sangat heroik-haru, dih!) Dan kita tersenyum karena 'happy ending'. Horee, jagoann

Sekian Ribu Kata dari Mulut Perempuan

Beberapa hari kembali ke medsos pasca sakit, saya baca tulisan yang menyalahkan teori sekian ribu kata pada kaum perempuan. Katanya teori itu nggak berdasar. Katanya juga sudah direvisi. Intinya, nggak bener bahwa perempuan itu punya stok sekian ribu kata yang harus dikeluarkan setiap harinya. Lantas banyak pihak sepakat. Banyakan mudharatnya kalau ngikut teori itu. Ntar keluarnya ngomel, merepet, ghibah dan semacamnya. Perempuan harusnya jaga ucapan. Disclaimer, tulisan ini bukan untuk mendebat. Bu, Teteh, Ukhty, Dik ... Jika kita terlahir sebagai perempuan introvert yang gak butuh banyak bicara atau bahkan menganggap bicara itu sulit, atuh jangan menghakimi yang suka bicara itu banyakan mudharatnya. Sebaliknya yang memang suka bicara, nggak perlu mendadak insecure dan diam. Kembalikan saja semua sesuai porsinya. Kita wajib menjaga lisan, karena satu kata pun kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sepakat, no debat. Tapi sebagai perempuan, terutama penyandang status isteri dan ibu, s

Dari Balik Pintu

 Ramadhan tahun ini, nggak pernah nyangka, kebagian ujian sakit cukup parah, lama pula. Alhamdulilllah 'alaa kulli haal, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan. Mau sakit atau sehat, sejatinya itu takdir terbaik. Mungkin ini cara Allah negur, "Hey Prith, pola makanmu kurang bagus. Pola tidurmu berantakan. Zhalim amat sama badan!" Si ibu pecicilan ini pun menyerah. Ponsel ditanggalkan. Tidur-makan-tidur-makan. Segalanya cuma bisa diliat dan didengar dari balik pintu atau jendela.  Anak-anak datang silih berganti untuk pamit sekolah. Kadang rasanya baru sebentar, eh udah balik lagi. Padahal bukan sebentar, tapi efek obat, jam tidur yang kebolak-balik. "Bu, demamnya belum genap empat hari. Besok kalau masih demam, kesini lagi ya, cek darah." Begitu dokter bilang. Besoknya alhamdulillah enggak demam. Sembuh, nih? Eh ternyata belum. Lusanya suhu tubuh naik drastis. Ke dokter lagi? Enggak. Gak bisa jalan. Sendi kaya dipretelin satu-satu. Nyeri. "Bun, langsun

Hati-hati Penipuan Berkedok Jualan Buku

  Tempo hari di wa group kelas Ustadz Aad, ada orang yang posting buku jualannya sekaligus banyak. Rata-rata buku anak dan atau buku bertema Islami. Saya perhatikan yang posting bukan admin. Karena hampir smua adminnya saya kenal baik. Segera saja saya japri admin. Apalagi sudah ada peserta kelas yang berminat beli, nanya kontak kemana? Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya di grup-grup lain, sudah berkali-kali ada melakukan hal serupa. Tiba-tiba posting banyak iklan buku berharga murah.  Siapa sih yang gak tertarik sama diskon? Apalagi buat yang suka baca atau pengen anaknya suka buku.  Admin gercep  menghapus, mengeluarkan dan bikin warning, hati-hati terhadap iklan-iklan buku murah seperti itu. Karena ternyata adminnya juga pernah kena modus seperti itu! Pesan dan nggak dikirim. "Lagian bukan cuma perkara ni-pu, Teh Pritha. Tapi yang kaya gini tuh gak punya adab. Ini grup siapa, tujuannya apa, eh main posting jualan." Begitu kata admin. Iya, bener banget! Nggak lama dari

Anak Udah Mau SD Kok Gak Diajarin Puasa?

Anak sulung saya puasa full umur 5th. Anak kedua full 6th. Keduanya puasa tanpa dimotivasi macam-macam. Simpel karena mereka susah makan. Jadi daripada saya pusing ngejar dan ngomel perkara makan siang-siang, mending suruh puasa aja. Eh langsung pada mau! Masya Allah ga ada tuh drama minta buka siang-siang. Paling sore pas emaknya masak atau makanan delivery nyampe dan kecium aromanya.  Nah sekarang yang ketiga. Umur 6 tahun belum mau. Alasannya hari pertama dia demam. Sekarang alhamdulillah udah membaik, tapi belum mau. Eh enggak deng ralat. Tahun lalu pas masih TK-A, atas motivasi dari kakak-kakaknya, dia puasa. Ikut sahur. Tapi di sekolah lamanya, sebagian besar teman-temannya nggak puasa dan tetap bawa bekal sebagaimana biasa. Bete lah dia, pulang ngadu. Saya kasih tau, mungkin mereka belum kuat. Saya ingatkan juga kalau anak TK memang belum wajib puasa. Jadilah setelah dapat beberapa hari puasa sampai maghrib, dia memutuskan gak puasa lagi.  "Boleh gak puasa, tapi jangan bawa