Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2024

Menikmati Kuliner Khas Palestina di Resto Palestina Al Quds Puncak

Kemarin sepulang dari Bandung, kami mampir ke @palestineresto_alqudscafe setelah menyimak review Bang @amritsaraje   Lokasinya nggak jauh dari Toll Jagorawi. Sebaliknya, kalau dari Bandung lumayan jauh. Tapi karena udah niat, anak-anak nggak mau diganti sama menu apapun. Mau makanan Palest1na, titik! Setibanya di sana, rasa laper terbayar. Menunya enak-enak! Bahkan ayam gorengnya pun rasanya beda dengan ayam goreng krispi di Indonesia pada umumnya. Psst, pelayannya bilang, itu pakai bumbu rempah khas Palest1ne, lho! Harganya cuma 16rb udah pakai nasi dan 2 tube kecil saos (saos tomat + saos cabe). Makanan lain nggak kalah enak. Ada Chicken Strip, aneka Burger dan Kebab. Porsinya cukup banyak pula. Kenyang! Nggak cuma makanan yang pakai rempah khusus, minumannya juga. Ada aroma jahe dan rempah lainnya di dalam tehnya, baik yang hangat maupun dingin. Surprise, kami dapat bonus 2 cangkir Kopi dan kudapan khas Palestina, Ruz Bil Haleeb (bubur

Hari ini dan yang Akan Datang

Kemarin dalam perjalanan pulang dari Bandung, si nomor dua tiba-tiba bilang, "Boleh nggak kalau Bilal nanti SMP biasa aja gak jadi mondok?"  Topik ini sebetulnya sudah pernah dia sampaikan sebelumnya, saat sedang semangat-semangatnya ingin jadi pemain sepak bola. Tapi selama ini belum dapat jawaban dari Ayahnya. Dan kemarin terjadilah ... Ayahnya yang berharap punya setidaknya satu anak yang mendalami Al Qur'an, tampak keberatan dengan hal tersebut. Beliau mencoba memberikan pemahaman pada si nomor dua tentang hal ini. Bahwa perjalanan dia sudah sejauh ini bercengkrama dengan Al Qur'an saat ini. Sayang rasanya kalau harus ke SMP biasa. Gak melarang secara langsung, tapi sang Ayah menggambarkan hal-hal baik jika melanjutkan ke pondok. Bla bla bla ... Pokoknya smooth deh gak yang maksa 'harus' gitu. Tapi di telinga si nomor dua tetap saja terdengar sebagai penolakan. Nangis lah dia. Saya menatap suami ngasih tanda tertentu. Dia menatap balik kasih tanda juga. Ka

Hai Impian, Aku Punya Allah!

  Malam ini saya habiskan dengan #pillowtalk dengan si sulung. Anak itu rupanya sedang mengkhawatirkan salah satu impian besarnya yang sudah mendekati deadline. Impian yang secara logis, menilik pada kemampuan, tak akan bisa terpenuhi. Raut kecewa terpancar jelas di wajahnya. Saya memeluknya sesaat, lalu menatap lekat matanya. "Secara logis kita nggak mampu, tapi apa Abang lupa ada Allah? Berdoa lah, memohon sungguh-sungguh. Karena Allah bisa menjadikan apa yang gak mungkin jadi sangat mungkin." "Berdoa mah udah tiap hari juga." "Ya udah, tinggal kita bersiap akan dua hal, keajaiban Allah kabulkan atau kesabaran menerima ganti yang lebih baik dari impian itu." Saya lalu mengisahkan satu cerita yang pernah dibaca bertahun-tahun lalu  Mengenai seseorang yang terjebak di toilet bandara sesaat sebelum penerbangannya menuju suatu tempat untuk presentasi bisnis bernilai sangat tinggi. Qadarullah kunci toilet macet. Dan pada saat itu toilet seolah 's

The Power of Allah

Dulu saya percaya The Power of Dreams. Saat kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu dan berusaha keras menggapainya dengan upaya dan doa, maka hanya soal waktu, impian itu akan kita dapatkan. Sekarang mindset saya berubah. The Power of Allah. Karena sebesar apapun sebuah impian, meski diiringi dengan upaya dan doa yang tak pernah putus, jika Allah belum menaruh ridha atasnya, maka itu akan tetap berupa impian. Sederhana, 'cuma' perkara Ridha. Tapi ternyata sedahsyat itu pengaruhnya. Perumpamaannya kaya gini, ada salah satu anak saya yang 'punya' amandel. Belum perlu dioperasi, tapi harus dijaga asupan makanannya. Maka terhadap anak yang satu ini, saya lebih bawel perkara jajannya. Saat ia ingin jajanan yang dalam catatan dokter bisa memicu amandelnya meradang, maka sekuat tenaga akan saya cegah. Ganti dengan yang lain. Meski sekuat tenaga pula ia merengek. Sekali enggak ya enggak.  Demi apa? Tentu saja kesehatannya. Ya adakalnya dia bandel, jajan sendiri gak mengindah

Membatasi Jumlah Anak, Bolehkah?

Temen saya nanya, "Prith, kalo kita mencukupkan diri dari jumlah anak, dosa gak sih?" Rupanya maksud dia adalah saat kita merasa udah stop, anak gue sekian aja. Mungkin dia terpikir nanya setelah baca status saya kemarin terkait si nomor dua yang pengen punya adik. Saya sampaikan ke dia, tergantung alasannya. Kalau kita berniat menyetop dengan alasan kesehatan, kesadaran diri atau kekhawatiran atas ketidakmampuan mendidik dan mengasuh. Ini macam-macam kondisinya. Ada yang LDR dengan suami, kondisi ekonomi yang pas-pasan, usia yang sudah tak lagi muda dll macam-macam lah kondisi orang. Saya rasa ini dibolehkan. "Coba lu bayangin, ada nih orang yang miskin banget. Jangankan untuk hal-hal tersier, perkara mencukupi makan anaknya aja belum mampu, berharap bantuan orang bahkan. Gue rasa lebih bijak jika dia memutuskan untuk stop dulu punya anak. Atau orang yang tinggal LDR. Dengan jumlah anak yang ada saja sudah kelimpungan karena gak punya support system, sampai acapkali mer

Insight Taushiyah Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah, Tafsir surah Al Mursalat 1-15

  Hati-hati dengan film yang kita tonton, terutama yg berasal dari barat. Sangat bahaya jika mereka menyajikan topik tentang hari akhir (Judgement day). Karena pada dasarnya mereka nggak mengimaninya. Jadi mereka akan buat versi mereka.  Boleh jadi akan ada apa yang digambarkan dalam Al Qur'an mengenai bintang yang padam cahayanya lalu berjatuhan, langit yang terbelah, gunung yang berhamburan laksana debu (Al Mursalat : 8-10). Tapi di akhir cerita, biasanya akan tampak sekelompok orang yang tersisa. Mereka bertahan di atas reruntuhan pasca kehancuran langit dan bumi yang demikian dahsyat. Lalu melanjutkan hidup. Mereka yang survive pada umumnya disebabkan oleh adanya orang yang melakukan 'upaya penyelamatan dunia', yang pada akhirnya dianggap pahlawan, entah dia bertahan hidup atau tidak. (Sesaat saya ingat film lawas Armageddon dengan OST-nya yang dulu, di telinga ABG saya, terdengar sangat heroik-haru, dih!) Dan kita tersenyum karena 'happy ending'. Horee, jagoann

Sekian Ribu Kata dari Mulut Perempuan

Beberapa hari kembali ke medsos pasca sakit, saya baca tulisan yang menyalahkan teori sekian ribu kata pada kaum perempuan. Katanya teori itu nggak berdasar. Katanya juga sudah direvisi. Intinya, nggak bener bahwa perempuan itu punya stok sekian ribu kata yang harus dikeluarkan setiap harinya. Lantas banyak pihak sepakat. Banyakan mudharatnya kalau ngikut teori itu. Ntar keluarnya ngomel, merepet, ghibah dan semacamnya. Perempuan harusnya jaga ucapan. Disclaimer, tulisan ini bukan untuk mendebat. Bu, Teteh, Ukhty, Dik ... Jika kita terlahir sebagai perempuan introvert yang gak butuh banyak bicara atau bahkan menganggap bicara itu sulit, atuh jangan menghakimi yang suka bicara itu banyakan mudharatnya. Sebaliknya yang memang suka bicara, nggak perlu mendadak insecure dan diam. Kembalikan saja semua sesuai porsinya. Kita wajib menjaga lisan, karena satu kata pun kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sepakat, no debat. Tapi sebagai perempuan, terutama penyandang status isteri dan ibu, s

Dari Balik Pintu

 Ramadhan tahun ini, nggak pernah nyangka, kebagian ujian sakit cukup parah, lama pula. Alhamdulilllah 'alaa kulli haal, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan. Mau sakit atau sehat, sejatinya itu takdir terbaik. Mungkin ini cara Allah negur, "Hey Prith, pola makanmu kurang bagus. Pola tidurmu berantakan. Zhalim amat sama badan!" Si ibu pecicilan ini pun menyerah. Ponsel ditanggalkan. Tidur-makan-tidur-makan. Segalanya cuma bisa diliat dan didengar dari balik pintu atau jendela.  Anak-anak datang silih berganti untuk pamit sekolah. Kadang rasanya baru sebentar, eh udah balik lagi. Padahal bukan sebentar, tapi efek obat, jam tidur yang kebolak-balik. "Bu, demamnya belum genap empat hari. Besok kalau masih demam, kesini lagi ya, cek darah." Begitu dokter bilang. Besoknya alhamdulillah enggak demam. Sembuh, nih? Eh ternyata belum. Lusanya suhu tubuh naik drastis. Ke dokter lagi? Enggak. Gak bisa jalan. Sendi kaya dipretelin satu-satu. Nyeri. "Bun, langsun