Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2022

Hikmah

"Yah, tau bakal dapet yang ini, gak gue ambil tawaran kerja kemarin." Atau, "Kalau udah pasti keterima di Univ X, kemarin gakan diambil Univ Y." Pernah gak denger orang menyesali karena dapet pekerjaan, jurusan kuliah atau apapun yang dinilai nggak lebih baik dari pilihan yang datang belakangan? Saya cukup sering, baik dari kerabat maupun sahabat. Eh saya juga pernah sih ngeluh serupa ini. Tapi waktu itu dinasehatin Papap, "Berarti itu belum rezeki Teteh. Kalau rezeki, mau muter-muter gimana juga pasti sampe. Kalau bukan, mau dikejar segimana juga gak akan dapet. Sing ikhlas, Teh. Ini yang terbaik, udah ditakar sama Allah. Seiring bertambahnya jumlah umur dan pemahaman, saya akhirnya sadar bahwa nasehat Papap sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Umar bin Khattab, "Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku." Kaya pa

Kematian itu Dekat, Tanpa Tapi

Seorang sahabat mengabarkan suaminya yg baru selesai operasi pengangkatan batu empedu. Sahabat lainnya mengabarkan, suaminya baru melewati masa kritis karena pembengkakan jantung. Peluk kalian smuaa ❤❤ Nggak mudah mendampingi orang terdekat di rumah sakit dalam kondisi yang sangat tidak baik-baik saja. Tetap ada di samping, melangitkan doa terbaik, bertumpu hanya pada Rabb Sang Pemilik jiwa. Dimana batas antara hidup dan mati sangat tipis. Padahal sejatinya, tak perlu tunggu sakut parah atau masuk ICU untuk bisa merasakan batas itu. Tak terlihat tapi nyata, ada dalam setiap aktivitas kita. Ada jalanan yang sebelumnya lengang, eh tiba-tiba pas ada yang di situ, truk oleng menyambar belasan kendaraan di depannya. Ada rumah yang sebelumnya nyaman damai sentosa, eh pas pemiliknya agi bersantai tiba-tiba Allah beri goncangan gempa, lalu luluh-lantaklah. Ada raga yang senantiasa menjaga sehatnya dengan makanan bergizi dan olahraga teratur, eh tanpa gejala apa-apa, Allah hadirkan

Berkorban VS Berjuang

Kalau ada yg bilang, jadi #orangtua itu harus siap kehilangan segalanya mulai dari waktu bersantai sampai karir, itu nggak sepenuhnya benar. Karena jika kita bisa me-manage waktu dg baik dan memiliki support system yang mendukung, maka 'kehilangan' itu bisa diminimalisir. Kalau nggak punya support system, gimana? Terimalah kondisi sebagai bentuk konsekuensi sebagai isteri/suami dan ibu/ayah. Kenapa saya sebut keduanya? Karena pd pernikahan yg sehat, memang nggak cuma salah satu kok yang diharapkan banyak mengalah. Keduanya harus bersinergi dan tumbuh bersama. Meski kadang urusan tumbuh ke samping, banyakan isteri (eh itu mah saya). Tapi satu yang pasti, yuk ubah mindset utk tidak menyebut hal ini sebagai #pengorbanan . Alih-alih merasa berkorban, mending sebut #perjuangan Perjuangan yang dilakukan bersama. Apa bedanya? Contoh, misalnya ada keluarga yang anaknya susah diatur. ❌️ "Nak, setelah pengorbanan Mama bertahun-tahun melepas karir yang nyaris sampai punca

Menyikapi Generasi 🍓

Tak jarang sebagian dari kita mengeluhkan anak2 jaman now tuh #GenerasiStrawberry manis di luar, tapi rapuh di dalam. Beda dg generasi dirinya dulu, yg tangguh dan siap menghadapi kenyataan sepahit apapun tanpa dikit2 healing. Bu ... Pak ... Sadarkah, anak-anak ini anak-anak siapa? Yang ngajar siapa? Yang membentuk siapa? Yang mengarahkan siapa? Lantas si generasi tangguh tanpa banyak ngeluh itu, hasil didikan siapa? Sepatutnya mereka yang selalu ribut mengu tuk generasi strawberry, bertanya ke dalam hati? Adakah andil diri menjadikan anak-anak jaman now sebagai strawberry-strawberry itu? Masih ada kesempatan kah sang buah kecil merah lucu itu dibentuk menjadi lebih tangguh, ya minimal gak mudah hancur oleh tempaan hidup? Kalau kata Teh Kiki Barkiah semalam, "Jika ada ungkapan Nasi telah jadi bubur, ya coba bikin bubur ayam yang lezat. Maka hal sama bisa kita terapkan pada para generasi jaman now. Kalau mereka telanjur 'Jadi Strawberry', ya kenapa nggak kita ja

Kenapa Allah Ciptakan Orang Ja hat?

"Bunda, kenapa di dunia ini ada orang ja hat? Bukannya Allah Maha kuasa? Jadiin aja smua orang baik, udah selesai. Damai." Ujian hari ini datang dari si nomor dua. "Tau Abu Lahab dan Abu Jahal?" "Pamannya Rasulullah yang mene ntang dakwah Islam." "Baik nggak mereka?" "Ja hat." "Tau Khalid bin Walid?" "Tau." "Baik nggak?" "Tadinya ja hat, trus masuk Islam, jadi baik." "Karena siapa dia baik?" "Karena denger adiknya baca Qur'an." "Yang mentakdirkan adiknya baca Qur'an pas dia lewat, siapa?" "Allah. Nah itu dia, kenapa Allah gak jadiin dia baik aja dari awal?" "Justru itu, Allah mau liat seberapa mampu kita berjuang membela diri dan agamanya. Orang-orang gak baik diciptakan sebagai ujian bagi orang beriman, apa yang akan kita lakukan? Apakah mengubah kejaha tannya dengan tangan dalam artian diperangi, dengan lisan yaitu didakwahi, atau

Behind the Scene Kompetisi Roblox Coding Gaza

"Yaudah daftar aja dulu, ntar Gaza usahain." Begitu dia jawab pas dikasitau ada #KompetisiCodingRoblox sama sekolah. Saya memastikan soalnya pihak sekolah baru ngasi tau H-1 deadline. Gak nyalahin juga sih, mungkin sekolah telat dapet info. Atau sengaja nunggu siswa selesai PAS dulu biar konsentrasi gak terbagi. Pas dibaca ulang, "Lah Bang, ini mah lomba #CodingRoblox bukan #Scratch atau #Tynker . Kamu kan belum pernah belajar." "Tapi Gaza bisa insya Allah." "Serius? Siapa yang ngajarin?" "Belajar sendiri." Ya Allah nih anak, jiwa emaknya banget ngulik2 dan gimana entar, modal bismillah campur nekat. Project #RoroJonggrang pun jadi, entah gimana caranya, pokoknya sehari dia bilang selesai. Saya liat dia ngotak-atik script #coding aja udah pusing. Mending nulis buku kayanya. Mainan anak jaman now sungguh nggak masuk otak makemak sederhana macem saya. Kami pun bayar pendaftaran dan submit. Hasilnya gimana Allah aja. Semalam da

Tertawa di Tengah Duka

Saya harusnya bersyukur punya anak-anak yang tetap 'rusuh' kala sakit. Mereka masih saling iseng, saling ledek tapi tetap bahu-membahu saling bantu. "Bil, kang bubur lewat tuh! Tolong beliin, Bunda lagi cek suhu Abang." "Ongeey!" Dengan sigap dia ambil mangkok dan manggil tukang bubur. Di lain waktu, "Udah jam pulang Nailah. Siapa mau jemput, Gaza atau Bilal?" "Ah elaah, Bilal malu, kan hari ini gak sekolah." "Kamu gak sekolah kan gara-gara batuk kemarin berenang, gak papa lho istirahat. Tinggal class meeting kok, ujiannya udah selesai." "Oke deh, tapi ntar makan siang Bilal mau soto ayam pake bihun." "Okesip!" "Gaza buangin sampah, deh." Si sulung ambil alih tugas adiknya. Begitu juga pas di RS. Ketiganya terdaftar sebagai pasien dengan gejala batuk. Tapi enggak kaya orang sakit yang lemes duduk gitu ya. Mereka masih bercanda-canda, gantian ke kamar mandi, main tebak-tebakan dan pas uda

Halal!

Kami pesan makanan di app. Sempat liat saat masih di gerai. Lalu liat lagi, udah jalan. Mikirnya, bentar lagi sampai nih, krn mmg dekat, gak sampai 10 menit lah. Sampai 15 menit belum sampai, kami cek app. Mungkin abangnya bukan orang sini, nyari2 alamat. Kaget, dinyatakan udah diterima. Gak ada foto penerima. Pdhl biasanya anak2 saya difoto kalo terima makanan. Saya auto complain ke cust service. Menyatakan bahwa makanan belum kami terima, tapi sudah closed. Lagi gitu ada tukang sate padang lewat. Kami memutuskan beli, ya kan laper banget. Saat makan bareng, si sulung cerita, "Bunda, di youtube pernah lho ada kasus gini, taunya Abangnya bawa pulang makanannya karena keluarganya laper." Glek, itu sate padang mendadak hambar. "Tapi ... kenapa gak bilang? Bunda nggak pelit kasih tip, lho." "Yakali bilang? Malu lah Bun. Atau bisa jadi, dia salah rumah. Nah yang nerimanya itu, di rumahnya gak ada makanan. Dan dia berpikir, wah alhamdulillah nih, ada rez

Before the Seasons Out of Time

"Pernah gak sih marah sama anak?" Beberapa kali saya dapat pertanyaan seperti itu. "Ya pernah lah, kan saya bukan Umma-nya Nussa Rarra." Terutama anak yang ada di foto ini, kayanya paling sering kena marah. Iya, soalnya umurnya paling banyak dibanding dengan saudara-saudaranya. Otomatis itu, termasuk kena limpahan sayangnya juga lebih banyak. Anak ini 'bandel' dalam artian akalnya banyak. Orang kalau nggak ngerti dia, akan berpikir aneh sama ide-idenya. Tapi kalau ditelusuri, saya bisa menyebutnya brilian. Emang sih jalannya muter-muter, tapi sesuatu yang jarang terpikirkan oleh kami. Kurang sabar aja, bisa bikin berantem tiap hari. Mana ngototan lagi anaknya, duh! "Kenapa baju kamu kotor banget? Padahal temen-temen kamu nggak segitunya?" Pernah saya tanya dia sepulang outbound dengan sekolahnya. "Disuruh guru, Bun. Pas lewat rintangan, harus guling-guling di tanah. Yang jijik-an nanti katanya ditambahin kotornya. Ya udah daripada

Menyuapi, Mengukir Kenangan

"Kalian laper apa doyan? Dua porsi loh ini." "Enak. Eh tapi bukan karena makanannya aja sih, tapi Bunda tau gak makanan paling enak tuh kaya gimana?" "Makanan dapet beli?" "Bukan, tapi makanan yang disuapin Bunda pake tangan. Itu eeenaaak banget!" Hahaha masya Allah Tabarakallah... Kalau sebagian orang membiasakan anak-anaknya mandiri, dimana salah satunya dengan mengajarkan makan sendiri sedini mungkin, saya agak beda. Diajarin sih iya. Tapi adakalanya, eh belakangan cukup sering sih ... saya memilih untuk menyuapi ketiganya dalam satu piring besar. Dan iya nambah-nambah. Di piring pertama saya siapkan separuh porsi masing-masing. Biasanya kurang, tuh. Yaiya kan cuma setengahnya. Habis itu nambah setengah lagi, lagi dan lagi. Kalau dihitung-hitung anak-anak bisa makan 1,5-2 kali lipat dibandingkan dengan kalau mereka makan sendiri. Tanpa mereka sadari 🤭 Dan biasanya tiap suap saya selipkan doa. "Si calon dokter pinter! "Ca

Fiksi dan Surga

Apa yang Anda harapkan dari membaca kisah fiksi, baik itu cerita pendek atau novel? Kalau saya, jelas ilmu. Apa saja. Ada fiksi tentang kehidupan seorang dokter, yang dengan membacanya saya belajar tentang ilmu kesehatan dan kehidupan seorang dokter yang sungguh melelahkan. Pernah pula saya membaca kisah seorang single mom yang tetap tangguh mendidik dan mengasuh anak-anaknya selepas suaminya wafat. Kisahnya begitu hidup. Predikat jan da tak membuatnya gentar. Ia tau batasan do's and dont's di tengah masyarakat. Berangkat dari latar belakang Psikologi, sebuah fiksi yang bagus menurut saya haruslah memperhatikan betul aspek psikis para tokohnya, agar cerita menjadi hidup. Tentu jangan lupakan observasi hal-hal teknis, agar tak ada cacat logika. Jalan cerita yang runut nyaris tanpa cacat logika beserta karakter yang cukup kokoh untuk setiap tokohnya, saya temui dalam kumpulan cerita Sandiwara Bumi karya sahabat saya Mba Indah Ershe . Tentu bukan karena dia teman baik

Kotak Makan yang Hilang dan Bad Mood pada Anak

"Bun, kotak makan Gaza ketemu." Dua hari lalu si sulung pulang sekolah dengan lunglai. "Alhamdulillah, di mana?" "Di atas lemari kelas. Tapi ... isinya masih ada, udah jamuran, bau. Maafin ya, masakan Bunda mubazir." "Gak papa, kan bukan salah Gaza." Anak itupun berlalu, membuang makanan super basinya ke tempat sampah dapur. Saya mengelus dada. Ada masalah berat apa dalam hidup temannya, hingga sampai hati iseng mengambil dan menyembunyikan kotak makan milik anak saya, sepekan lalu? Iya, sepekan lalu. Saya ingat betul kala itu hari Selasa, karena pas ada ekskul. Tapi karena alasan apa saya lupa, khusus hari itu ditiadakan. Jadi Gaza bisa pulang lebih cepat sekitar 1,5-2 jam dari waktu normal. ❤️ "Bunda, Gaza lapaaar!" Teriakannya sungguh bikin pilu. "Lho, emang bekalnya kurang?" Seingat saya dia bawa nasi lengkap dg lauknya dan snack dua potong kebab ukuran medium. "Makan siang Gaza ada yang ngambil." &qu