Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2023

Dears Mantan Idolaku, Teteh Britney Spears...

Teh, kumaha damang? Saya abis baca berita yang viral tentang peluncuran buku biografi Teteh yang berjudul The Woman in Me. Buku yang katanya isinya mengungkap masa lalu Teteh yang pekat, salah satunya karena pernah melakukan ab0rs1 pas pacaran sama Aa Justin. Bentar, sebelum kejauhan bahas bukunya, saya mau ngucapin selamat ya, Teh. Gak nyangka, selain pinter nyanyi dan dance, Teteh juga bisa nulis. Nggak pake ghost writer, kan? Apa, pake? Lah kenapa nggak kontak saya aja? Boleh nego, kok. Eh nggak deng, becanda! Kembali ke topik, Teh Brit. Sometimes I run, Sometimes I hide. Eh kok jadi nyanyi? Tapi lagu itu kayanya relate sama apa yang mau saya sampaikan, Teh. Gak usah lari atau sembunyi kalau punya masalah. Emang susah sih jadi artis ya, jangankan berat badan naik, kentut nggak merdu aja ntar jadi headline. Jujur ya, kenapa gak dari dulu Teteh cerita kalo hamil anaknya Aa Justin? Coba kalau Teteh dulu speak up, gak bakalan ada cerita ab0rsi dan jadi nelangsa. Kita para fa

Insight Kajian Tazkiyatun NafsUstadzah Sayyidah Murtafiah DjauharBintaro, 21 Oktober 2023

Bismillah ... Hari ini untuk pertama kalinya saya ikut kajian #tazkiyatunnafs secara langsung bersama Ustadzah Sayyidah atau yg biasa dipanggil UmmSay di kediamannya di Bintaro. Sebelumnya sudah pernah, tapi online. Ternyata rasanya beda banget, jauh lebih mengena, masya Allah. Dimulai dengan flashback diusirnya Azazil, pemimpin para iblis dari surga karena menolak sujud pada Nabi Adam 'alaihissalam, karena merasa lebih mulia (Al A'raf : 12) Meminta izin agar bisa menggoda seluruh anak cucu Adam 'alaihissalam untuk kelak menemaninya di neraka. Bentuk godaannya terbagi dua: 1. Menggoda manusia berbuat dosa 2. Menimbulkan rasa sombong di hati manusia, merasa lebih baik dari orang lain Panah-panahnya ditancapkan terutama pada para Perempuan yang Lelah. Mereka akan mulai dengan mencabut rasa syukurnya sehingga para perempuan ini mengeluh akan aktivitasnya, mulai membandingkan dirinya dengan perempuan lain. Lalu dicabut pula kesabarannya. Perempuan dibuat mudah marah

Konflik Akibat Trauma dengan Saudara Kandung

"Kenapa sih, kamu sama kakak kamu gak bisa akur? Ada aja debatnya. Udah pada gede juga, kaya anak kecil aja." Ibu lagi-lagi menanyakan hal itu padaku. Seperti sebelumnya, aku cuma bisa diam dan berlalu. Namaku Tara. Aku seorang ibu dengan dua anak. Usia tiga puluh enam. Ibuku benar, bahwa aku tak pernah akur dengan kakak lelakiku. Tak akan pernah bisa, kurasa. Hanya saja, baik ibu, bapak dan siapapun itu, tak ada yang tahu penyebab pastinya. Karena aku menguncinya rapat-rapat. Kala itu aku masih SMP, saat peristiwa traumatis ini kualami. Aku sedang mandi pagi, tiba-tiba merasa bahwa seseorang mengawasiku. Saat kulihat sekeliling, ternyata benar, kakakku mengintip! Kamar mandi di rumah kami yang sederhana itu memang tak tertutup sampai plafon. Sehingga ada sedikit celah yang memungkinkan orang, jika ia naik ke bangku tinggi atau tangga, untuk bisa mengintip. Dan itulah yang dilakukan oleh kakakku. Malu, takut, sedih, kesal dan entah apa lagi berkecamuk dalam diri i

Wahai Ibu, Jika Lelah Katakanlah

Selepas mengampu kelas #MembasuhLukaMengasuhDenganBahagia saya menerima banyak sekali japri curhat para ibu. Alhamdulillah rata-rata mereka merasa terbantu dengan adanya kelas ini. Jadi bisa mengenali dari mana sumber emosi yang menyertai hari-hari selama ini. "Saya akhirnya tau kalau saya ini terlalu capek, Teh. Sehari-hari saya jualan makanan di dekat pasar, untuk menyambung hidup. Di samping itu, masih pula saya menyiapkan urusan domestik. Semua saya lakukan sendiri, karena suami seolah tak peduli. Katanya dia sakit. Tapi sudah ke dokter saraf berkali-kali, nggak ditemukan penyakit apa. Terakhir malah dia bilang pengen ikut touring lagi." Jadi gini ... Sang suami ini tadinya bekerja sebagai supervisor di satu perusahaan swasta. Nah di situ, dia berkenalan dengan komunitas motor besar dan sering ikut touring. Masalah muncul. Kredit motor dan aktivitas touring menggerus penghasilannya. Dari yang tadinya keluarga ini berkecukupan, meski tak berlebih, perlahan jadi

Sehari Bersama Anak Gadis

"Ade mau ikut Bunda!" Anak gadis memutuskan dengan tegas saat saya dan suami memberi pilihan, hari Ahad mau ikut aksi bela P4lestine sama Ayah atau kajian ke Bintaro sama Bunda? Tarik napas, hembuskan ... Jika saat usianya 2 tahun saja saya berani naik kereta Bandung-Jakarta hanya berdua saja, kenapa kali ini harus gentar? Manakala usianya sudah nyaris 3 kali lipat. Perjalanan kami pun dimulai, jreeng! Start dari Stasiun Bojonggede, perasaan udah gak enak. Nih anak ngomong melulu nggak kelar-kelar. Yaa Allah padahal hamba berniat merem tipis-tipis di kereta. "Liat, ada pohon pisang banyak banget!" "Itu bunga pink kesukaan Bunda!" "Wow kereta yang ke arah sini ngebut bangeet!" "Liat, mobil sama motornya pada antri pas kita mau lewat!" Begitulah, dia mengomentari segala yang diliatnya sepanjang jalur menuju Manggarai. Oya nyaris lupa, pas denger suara yang menyebutkan nama stasiun dan peringatan pada penumpang, masa dia bilang

Life Hacks Menggali Rahasia Anak

Gengs, tau nggak kata Ustadz Muhammad Syafiie El-Bantanie yang kemarin hadir mengisi kajian di sekolah si sulung, salah satu cara dekat dengan anak adalah menjadi pendengar atas cerita-ceritanya. Tapi cilakanyah, gak sedikit anak sekarang yang gak mau cerita sama orangtuanya atas nama privacy. Widih tampak gaya ya, punya privacy? Padahal sebenernya kalau mau ditilik-tilik, ini bisa jadi awal dari bencana besar. Kok bisa? Beliau berkisah, bahwa pernah ada seorang remaja puteri yang menerima telpon dari pacarnya di malam hari. Si lelaki bilang kalau dia abis diramp0k di satu tempat. Tanpa izin sama orangtuanya, berangkatlah si gadis ke satu kebun di alamat yang dibilang sama pacarnya itu. Ternyata itu bersyandaaa. Si pacar sebetulnya punya niat jahap. Mau 'begitu' laah, paham ya? Sesampainya di sana, aksi itu segera dilakukan. Tentu saja perempuannya kaget. Dia nggak nyangka dibohongin sama laki-laki yang selama ini dipikirnya sayang banget sama dia. Dia berteriak sek

Tentang Isteri yang Berjuang 'Sendiri'

Mau sedikit cerita dari hasil kelas 'Membasuh Luka Mengasuh dengan Bahagia' tempo hari. Cukup banyak perempuan yang japri setelah kelas. Kasusnya sebagian besar adalah mereka yang merasa berjuang sendiri dalam bahtera rumahtangganya. "Suamiku awalnya sakit, jadi nggak bisa kerja. Supaya dapur tetap ngebul, saya otomatis ambil alih dengan jualan apa aja. Pas udah sembuh, emang sih gak se-fit biasanya. Tapi gak sakit amat juga, beliau jadi kaya yang malas gitu, Teh. Gimana ya, saya capek?" Atau, "Teh, saya ini senang sekali baca parenting. Jadi meskipun cuma lulusan SMA, saya punya harapan jadi ibu yang baik, sama kaya teman-teman yang sarjana. Tapi suami kaya nggak peduli kalau saya kasih tau, gak boleh lho bentak anak. Atau kita harus apresiasi anak, jangan mikir kan itu emang udah kewajibannya. Jadi kaya saya tuh nerapin ajaran parenting sendiri. Jadi kesel. Sering beda prinsip dalam mendidik anak. Gak patuh sama suami, dosa. Tapi mau patuh, saya tau

The Power of 'Kepepet'

Beberapa waktu lalu, si sulung janjian sama teman lamanya di mall. Sohib banget, jauh di mata dekat di mabar #eh "Tapi Bunda cuma punya uang segini lho, Bang. Kalo mo nonton, gak akan cukup." "Dah gak papa, paling makan doang." "Bun, Bilal ikut ya?" "Eh, uang buat Abang aja pas-pasan. Pake kamu mau ikut segala." "Udah lama nggak ke mall." "Ya sama Bunda juga. Tapi kan memang belum perlu amat." "Iya sih, tapi ..." "Dah gak usah, Abang cuma mau ketemu sama temen lamanya. Bilal sama Bunda aja, nanti kita beli es krim." Dia menggeleng. Manyun. "Ya udah ayo ikut, tapi jangan minta jajan yg enggak-enggak." Kakaknya memutuskan. Mata anak itu berbinar, "Kata Abang boleh, Bunda ridha?" "Yakin, Bang?" "Iya lah daripada berisik. Lagian ntar pada jajan es krim, Gaza gak kebagian." Sekali lagi si nomor dua menatap saya, "Ridha?" Saya mengangguk. ❤️ Sekitar ja

Tips Menghadapi Anak Tantrum di Waktu Mendesak

Pagi ini si nomor dua rungsing. Pasalnya, target hafalan dia kurang satu ayat. Ini disebabkan kami yang tidur lagi bada subuh. Jadi kami udah janjian mau murajaah jam 4 pagi. Cuma karena ini Senin, jam segitu tadi kamu sahur. Lepas sahur, shubuh, qadarullah saya yang semalam kurang tidur, ngantuuk banget. Akhirnya saya minta izin tidur sampai setengah 6. Ok dia setuju. Sementara sekitar 40 mnt dia akan menghafal satu ayat. Rupanya setelah saya tidur, gak lama dia juga ngantuk. Suami yang nggak tau kalau dia lagi berjuang menambah ayat terakhirnya plus kami punya janji setengah 6, menyuruhnya tidur dulu aja. Gak pakai lama, dia nyenyak setelah menyimpan Qur'annya. Jam 6 kerusuhan itu dimulai. Si nomor dua nangis karena target satu ayat terakhirnya belum dia hafal. Yang disalahkan jelas ibunya. Dalam hati sebetulnya pengen ngomel, "Hooy Bunda nih kurang tidur lho! Biasanya mah seger karena udah mandi dari sebelum subuh kalau tidurnya cukup mah!" Tapi urung. Saya

Sedekah untuk Diri Sendiri

Jujur ya, baru belakangan ini, belum setahun lah, saya tau tentang sedekah pada diri sendiri, setelah nonton taushiyahnya Ustadz Khalid Basalamah. Jadi di satu kajian beliau ada jamaah yang bertanya "Apakah benar sedekah didahulukan untuk diri sendiri jika saya merasa kurang? Adakah bernilai pahala?" Ustaz Khalid Basalamah menegaskan hal itu diperbolehkan jika kebutuhan kita belum terpenuhi. Beliau lantas menyampaikan kisah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam yang didatangi oleh seseorang. Orang itu mengaku memiliki uang, lalu ia bertanya kepada siapa uang itu sebaiknya disedekahkan? Rasulullah mengatakan, "Bersedekahlah kepada dirimu dulu." Orang itu mengaku masih memiliki uang, Rasulullah pun menyuruhnya memberikan uang itu untuk anak, istri dan pembantunya. Setelah itu, ia mengaku masih memiliki uang dan bertanya kepada siapa lagi ia bersedekah? Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi  wassalam menjawab, "Engkau lebih tahu setelah itu&qu

Si Sulung dan Hari Batik Nasional

Berawal dari pengumuman di wag dari wali kelas, "Besok dalam rangka #haribatik maka seluruh siswa harus pakai batik ya, bebas." Si sulung langsung bingung. Pasalnya dia nggak punya batik. Lain dengan si nomor dua. Karena di sekolahnya tiap pekan ada pakai batik bebas, jadi dia punya. "Ustadz, boleh batik sekolah gak?" Temannya ada yang nanya. Kayanya senasib, gak punya batik. "Gak boleh, bebas." Lagi gitu, tiba-tiba Ayahnya dapet ide, "Pake batik #umroh aja." "Lah jadi iklan jalan, dong?" "Gapapa, ntar kalo ada yang mau umroh, suruh daftar ke Bunda." Gak ada waktu mikir, mau gak mau si sulung harus setuju. Ya masa mau pinjem batik adik atau ayahnya? Pagi tadi sambil nyengir dia pake. Ayahnya ngegodain, "Doa #thawaf udah hafal, Bang? Sa'i? Jangan lupa dibotakin." Si sulung cengar-cengir aja. "Bang, poto ya?" "Ogyaaah! Malu-maluin ih, Bun. Segala poto. Emak-emak banget sih." Jadi aja

Tauhid Kuat Pedagang Cincaw

Tauhid Kuat Pedagang Cincaw Saya semakin menyadari kalau setiap gerak langkah kita itu sudah sempurna sesuai skenario Allah. Hari ini saya kesiangan belanja. Rada bete sih, soalnya udah nggak leluasa milih sayur-mayur. Tapi ya udahlah, mungkin Allah lagi pengen saya sabar. Pas pulang, liat tukang cincaw langganan. Udah lama juga gak ketemu, soalnya kalau pagi kan dia belum ada. Memutuskan beli, karena orang rumah pada doyan, terutama Papap. Pas beli, bapak penjualnya yang memang suka ngobrol, bercerita macam-macam. Tapi ada satu omongannya yang bagus banget, pas saya basa-basi tentang cuaca yang menyengat, "Atuh Teh, mau hujan mau panas, da semua juga dari Gusti Allah, kita mah ngikut aja. Insya Allah rejeki mah gak akan ketuker. Pas butuh, pas ada. Asal yakin." Masya Allah kuat bener Tauhid tukang cincaw. Saya kan jadi kepo, nyantri di mana nih si bapak? Eh taunya Gaes, bliau ex guru agama di satu sekolah di Cianjur! Berenti karena gaji guru honorer cuman 350 reb

Ranah Juang Anak Gadis Sebagai si Bungsu

Di acara kajian kemarin, kami duduk di ujung, berdekatan dengan dus air mineral. Setelah gelas-gelas dibagikan, tersisa selembar kardus pembatas. Bukan main senangnya anak gadis. Dia memang hobi main DIY craft ala-ala. Jadi kardus dkk ini semacam 'harta karun' buatnya. Nurun dari Bundanya? Oh tentu bukan, thanks to crativity n youtube 🤭 "Yah gak bawa spidol atau gunting." Ia sempat mengeluh. Tapi nggak mati gaya, itu kardus dia mainin dengan beragam gaya. Disusun dengan gelas air mineral, disandarkan ke pembatas ikhwan-akhwat dan lain-lain. Pokoknya jadi mainan yang bikin anteng. Masya Allah alhamdulillah. Padahal kalau di tangan emaknya, paling jadi kipas. Tiba-tiba ibu-ibu di depannya melihat ke arahnya dan bertanya, "De, itu dipake nggak? Ibu gerah banget nih." "Oh dipake," jawabnya santai, dengan tone suara yang lempeng. Glek! Berani juga anak ini. Saya membandingkan dengan diri sendiri di usia yang sama. Kalau ada orang dewasa ngo